Komunikasi kebijakannya bermasalah, persoalan yang sering dikeluhkan akhir-akhir ini, termasuk oleh beberapa pejabat eselon yang lewat beranda Facebook saya.
Singkat cerita, kemarin saya diminta oleh teman-teman PPI Dunia—namanya terdengar ngeri juga—untuk mengisi pelatihan penulisan policy brief. Sejak awal saya sampaikan bahwa saya tidak akan mengisi bagian teknis, seperti cara menyusun kerangka atau format dokumen. Kebetulan itu sudah menjadi porsi pemateri lain. Saya memilih untuk membahas hal yang lebih fundamental, yaitu “Komunikasi Kebijakan”. Akhirnya kami sepakat.
Saya mulai membuka-buka folder lama, ternyata sebagian besar bahan sudah tersedia. Saya susun ulang, dan saya tambahkan konteks ekosistem media serta lanskap digital yang berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Materi pun saya siapkan. Saya sempat lupa: dulu waktu masih mengajar Mata Kuliah Analisis Kebijakan Kesehatan, topik ini biasa saya sampaikan dalam durasi 3 SKS. Sementara panitia hanya memberi saya waktu 60 menit—setara kurang dari 2 SKS, termasuk 15 menit tanya jawab.
Konsekuensinya, banyak bagian yang harus dipangkas. Saya pilih yang paling esensial.
Acara selesai, alhamdulillah, penyampaian berjalan lancar. Pesertanya cukup banyak: dari 450-an pendaftar, sekitar 245 orang hadir. Tidak sedikit pula Bapak/Ibu dari dinas provinsi, kabupaten, dan kota yang ikut.
Semoga materi ini bisa menjadi masukan dan input bagi penyusunan kebijakan, khususnya di bidang kesehatan. Lanskap sosial telah banyak berubah. Materi kuliah dan pelatihan penyusunan kebijakan pun perlu menyesuaikan.
Materinya ada di bawah ini ya.
Materinya ada di bawah ini ya.