Sebelum manuskrip masuk perpustakaan pusat di LMU Munchen, saya membuat catatan atau apalah ini resume kali ya untuk menjelaskan paparan disertasi Rizqy Amelia Zein yang kemarin. Semoga kurang lebihnya ini dapat menjadi telaah awam pertama sebelum dia nanti menjelaskan lebih rinci sebagai ahli tentu saja.
Dari presentasi dan naskah yang saya simak dan baca, disertasi ini bermula tentang diskusi dan pertanyaan tentang bagaimana manusia memaknai hubungan antara sains dan agama. Diskusi dan pertanyaan ini sebetulnya telah menjadi salah satu perdebatan paling panjang dalam sejarah pemikiran. Bahkan makin menemui titik didihkanya sejak periode pandemi hingga persoalan perdebatan krisis iklim. Narasi sains dan agama terus diperbincangkan dan perdebatan tersebut muncul berulang kali, baik dalam forum akademik, dalam diskusi publik, maupun dalam kehidupan sehari-hari saat individu bertemu dengan penjelasan ilmiah dan keyakinan religius secara bersamaan.
Dari presentasi dan naskah yang saya simak dan baca, disertasi ini bermula tentang diskusi dan pertanyaan tentang bagaimana manusia memaknai hubungan antara sains dan agama. Diskusi dan pertanyaan ini sebetulnya telah menjadi salah satu perdebatan paling panjang dalam sejarah pemikiran. Bahkan makin menemui titik didihkanya sejak periode pandemi hingga persoalan perdebatan krisis iklim. Narasi sains dan agama terus diperbincangkan dan perdebatan tersebut muncul berulang kali, baik dalam forum akademik, dalam diskusi publik, maupun dalam kehidupan sehari-hari saat individu bertemu dengan penjelasan ilmiah dan keyakinan religius secara bersamaan.
Disertasi ini berangkat dari persoalan klasik diatas, namun secara singkat bahasannya tidak berhenti pada debat abstrak mengenai kompatibilitas dua ranah tersebut. Sebaliknya, risetnya menempatkan fokus pada bagaimana orang biasa (laypeople), bukan hanya ilmuwan (scientist) atau teolog (teologist), secara psikologis memetakan hubungan antara sains dan agama.
Jadi POV disertasi ini dari POV orang biasa. Disertasi ini disusun oleh penelusuran atas tiga hal utama.
Pertama, apa saja pola mental (mental models) yang digunakan orang untuk memahami hubungan antara sains dan agama.
Kedua, bagaimana pola mental tersebut dapat diukur secara sistematis sehingga bisa diteliti secara kuantitatif. Sehingga riset kedua ini melahirkan sebuah alat ukur statistik.
Ketiga, bagaimana pola mental tersebut mempengaruhi cara orang menilai penjelasan ilmiah (saintifik) dan religius (agama) dalam situasi nyata sehari-hari.
Sehingga pendeknya disertasi ini tidak hanya berkontribusi pada kajian psikologi sosial (topik hubungan agama dan sains), tetapi juga punya kontribusi metodologi pengukuran dan bukti empiris mengenai mekanisme pola mental pada kaitan antara hubungan sains dan agama.
Selengkapnya bisa baca di sini https://share.google/r4nZkBv6JViPETkhk